Enjoy my piece on this album at Jakartabeat, which I wrote in Indonesian:
Saya merasa sejarah kurang begitu adil bagi album Slip of the Tongue.Buat saya pribadi, album yang dirlis Whitesnake tahun 1989 ini layak tercatat sebagai salah satu album terbaik dalam sejarah musik rock. Tapi pengakuan yang didapat tidak sebanding dengan apa yang album ini berikan. Banyak fans menganggap album ini “kurang Whitesnake”. Bahkan dua punggawa Whitesnake, David Coverdale dan Adrian Vandenberg pun merasa begitu.
Baiklah. Toh sejarah menempatkan album Slip of the Tongue dalam banyak cara. Sebagaimana sejarah juga menempatkan Whitesnake dalam berbagai cara. Kita bisa melihat Whitesnake sebagai “The David Coverdale band“. Tidak salah juga.
Whitesnake berawal dari The White Snake Band, yang dibentuk Coverdale di tahun 1978 untuk menjadi band pengiringnya. Belakangan ia merasa lebih nyaman menjadikan Whitesnake menjadi band sendiri. Meski hingga tiga dekade kemudian caranya mengelola Whitesnake membuat band ini ya sebelas dua belaslah dengan band pengiring vokalis solo.
Whitesnake berawal dari The White Snake Band, yang dibentuk Coverdale di tahun 1978 untuk menjadi band pengiringnya. Belakangan ia merasa lebih nyaman menjadikan Whitesnake menjadi band sendiri. Meski hingga tiga dekade kemudian caranya mengelola Whitesnake membuat band ini ya sebelas dua belaslah dengan band pengiring vokalis solo.
Whitesnake juga bisa dirujuk sebagai “Deep Purple sempalan” (meski untuk gelar ini mereka harus bersaing dengan Rainbow). Terutama di masa-masa awal ketika musik yang mereka mainkan masih sangat kentara warna Purple-nya. Apalagi ada masa dimana Jon Lord dan Ian Paice pernah memperkuat formasi Whitesnake di awal ‘80an.
Mereka yang menyukai Whitesnake di era ini akan mengatakan bahwa musik mereka bergeser sejak album Whitesnake (1987). Ini menjadi album mereka paling sukses secara komersil. Di album ini Coverdale –yang sangat dibantu oleh John Sykes– membawa sound Whitesnake lama yang lebih blues menjadi hard rock/ heavymetal. Musik mereka terdengar lebih ‘Amerika’. Penampilan mereka pun sedikit banyak mengikuti gaya hairmetal yang sedang trend saat itu.
Saya akui, perkenalan saya dengan Whitesnake baru terjadi setelah album ini. Still of the Night membuat saya terkagum-kagum menyadari kalau ternyata gitar elektrik bisa digesek pakai gesekan biola (meski akhirnya saya menyadari kalau Jimmy Page sudah melakukan itu jauh sebelumnya saat bersama Led Zeppelin). Dan Is This Love punya semua formula untuk menjadi sebuah power ballad. Ah ya, tentunya saya berusaha untuk bisa memainkan gitar lagu ini; trik klasik seorang anak SMP untuk melakukan social climbing.
Slip of the Tongue menandai evolusi lebih jauh dalam musik Whitesnake. Sebagian ini terjadi karena kecelakaan. Dalam arti harafiah, karena memang dalam penggarapan album ini, gitaris dan penulis lagu utama Adrian Vandenberg mengalami cedera tangan. Setelah beberapa lama ia masih belum bisa main gitar, Coverdale memutuskan mencari gitaris lain untuk sesi rekaman. Pilihan jatuh pada Steve Vai yang saat itu baru memperkuat David Lee Roth band.
Coverdale sebenarnya tidak terlalu kenal kiprah Vai selama bergabung dengan Roth maupun sebelumnya bersama Frank Zappa. Ia kenal Vai lewat film Crossroads yang dibintangi oleh Michael J Fox. Penampilan Vai di film itu cukup membuat Coverdale kagum dan yakin untuk mengajaknya main untuk Whitesnake.
Vai memang tinggal mengisi sesi gitar di rekaman yang sudah hampir jadi. Tapi sentuhan Vai membawa sound di album Slip ke dalam dimensi lain. Sulit medeskripsikannya dengan kata-kata. Apalagi kosakata saya tentang teknik gitar sangat minim. Tapi dengarlah permainan solo Vai di lagu Fool for Your Loving, khususnya di bagian two-handed tapping.Atau intro Cheap and Nasty. Atau sesi rhythm di The Deeper the Love serta Now You’re Gone.
Track Sailing Ship bisa dibilang merupakan magnum opus di album ini. Memang karya ini tidak bisa hanya diatribusikan pada Vai. Coverdale dan Vandenberg sudah membangun struktur yang kuat bagi lagu ini. Tapi tetap saja, permainan Vai baik di sesi akustik maupun bagian solo membuat lagu ini menjadi spesial.
Sayangnya Coverdale dan Vandenberg tidak terlalu puas dengan album ini. Menurut Vandenberg, permainan gitar Vai kelewat flamboyan. Ia berharap album ini lebih punya sentuhan blues. Senada, Coverdale juga menganggap ini album yang bergeser terlalu jauh dari warna musik Whitesnake. Meski belakangan ia akhirnya bisa lebih mengapresiasi Slip.
Setelah album ini, Whitesnake melakukan tur dengan Vai dan Vandenberg sebagai duet gitaris. Dalam berbagai klip, duet Vai-Vandenberg sebenarnya sangat menjanjikan. Gaya blues Vandenberg saling mengisi dengan gaya flamboyan Vai. Di lagu-lagu Whitesnake klasik, Vai bisa menempatkan diri sebagai gitaris kedua, memberi ruang bagi Vandenberg.
Tapi Vai memang dilahirkan bukan menjadi seekor ikan di kolam yang sempit. Menjadi gitaris di band orang lain bukanlah jalur hidupnya. Apalagi jika band itu sudah punya matahari sendiri bernama David Coverdale. Vai perlu punya panggung sendiri. Selepas Whitesnake, ia fokus di jalur solo, dan terkadang manggung bersama gurunya, Joe Satriani, bersama G3.
Lalu bagaimana kita menempatkan album Slip of the Tongue?
Sejarah selalu punya multiinterpretasi. Kita bisa melihat album ini “Whitesnake menampilkan Steve Vai”, atau “Steve Vai bersama Whitesnake” –semua sah saja. Yang jelas bagi saya, ini adalah sebuah album yang sangat underrated dalam sejarah musik rock yang terkadang tidak adil.

No comments:
Post a Comment